Rabu, 07 Februari 2018

TULISAN



Harga Minyak Naik, Laba Shell Melonjak Dua Kali Lipat

LONDON, KOMPAS.com - Raksasa minyak Royal Dutch Shell membukukan rekor laba hingga dua kali lipat pada kuartal IV 2017. Kinerja laba perseroan ini didorong peningkatan harga minyak dan gas dunia.
Mengutip CNBC, Kamis (1/2/2018), laba bersih Shell tercatat sebesar 4,3 miliar dollar AS pada kuartal IV 2017. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 1,8 miliar dollar AS.
Capaian tersebut pun lebih tinggi dibandingkan konsensus proyeksi analis sebesar 4,24 miliar dollar AS. CEO Shell Ben van Beurden menyatakan, Shell telah berhasil membukukan kinerja keuangan yang kuat setelah melewati tahun transformasi.
"Fokus kami pada nilai, performa, dan daya saing membuktikan kami bisa memberikan arus kas sebesar 39 miliar dollar AS dari operasional kami, termasuk pergerakan modal kerja," jelas van Beurden.
Adapun laba bersih Shell sepanjang tahun 2017 tercatat sebesar 15,8 miliar dollar AS. Capaian ini melonjak 119 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja keuangan Shell yang solid tersebut sejalan dengan lonjakan harga minyak dunia yang telah meningkat 50 persen sejak tahun lalu. Pada awal Januari 2018, acuan harga minyak internasional Brent bahkan menyentuh rekor sebesar 70 dollar AS per barrel.
Ada pula tanda-tanda keseimbangan kembali di pasar minyak. Ini khususnya terjadi karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sejumlah negara produsen utama dunia lainnya sepakat memangkas produksi.
Pada akhir tahun lalu pun, Shell menyatakan reformasi perpajakan AS akan memberikan dampak yang signifikan terhadap operasional bisnis perseroan. Perubahan aturan pajak AS yang dicanangkan Presiden Donald Trump diproyeksikan memberikan efek yang berarti terhadap kinerja keuangan Shell pada kuartal IV 2017.
Dalam kebijakan perpajakan, Trump memangkas tingkat pajak korporasi dari 35 persen menjadi 21 persen.

http://ekonomi.kompas.com/read/2018/02/01/174848826/harga-minyak-naik-laba-shell-melonjak-dua-kali-lipat

TULISAN



BPJS Kesehatan Akhiri Kerja Sama dengan RS Siloam TB Simatupang

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Humas Badan Pemyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS) Kesehatan Nopi Hidayat, membenarkan pihaknya telah mengakhiri kerja sama dengan salah satu fasilitas kesehatan yakni Rumah Sakit (RS) Siloam TB Simatupang, Jakarta Selatan.
Nopi memaparkan, perjanjian kerja sama antara BPJS Kesehatan dengan RS Siloam TB Simatupang berakhir sesuai dengan kontrak per 31 Januari 2018.
"BPJS Kesehatan dan RS Siloam TB Simatupang bersepakat untuk tidak melakukan perpanjangan kerja sama karena terdapat beberapa syarat dan ketentuan dalam proses evaluasi dan seleksi (credentialing) yang tidak dapat dipenuhi oleh RS Siloam TB Simatupang," ujar Nopi kepada Kompas.com, Rabu (31/1/2018).
Menurut Nopi, BPJS Kesehatan juga telah berkoordinasi dengan Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya wilayah setempat perihal keputusan tidak diperpanjangnya kerja sama dengan RS Siloam TB Simatupang.
Selain itu, BPJS Kesehatan juga menerapkan seleksi ketat melalui proses kredensialing bagi fasilitas kesehatan yang hendak menjalin kerja sama.
"Kriteria teknis yang menjadi pertimbangan BPJS Kesehatan untuk menyeleksi fasilitas kesehatan yang ingin bergabung antara lain sumber daya manusia (tenaga medis yang kompeten), kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup pelayanan, dan komitmen pelayanan," ucap dia.
Adapun seleksi dan kredensialing tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Atau Kota setempat dan atau Asosiasi Fasilitas Kesehatan.
Sebelumnya, telah beredar pesan berantai melalui WhatsApp yang menyatakan bahwa RS Siloam TB Simatupang tidak lagi melayani pasien BPJS Kesehatan hingga waktu yang belum ditentukan.
"Silahkan kembali ke faskes (fasilitas kesehatan) 1 untuk dirujuk kembali ke RS lain yang melayani BPJS, jika ingin tetap konsultasi dengan dokter yang bersangkutan bisa melakukan pembayaran pribadi, mohon maaf atas ketidaknyamananya dan terima kasih," isi pesan berantai tersebut.
http://ekonomi.kompas.com/read/2018/01/31/150700926/bpjs-kesehatan-akhiri-kerja-sama-dengan-rs-siloam-tb-simatupang

TULISAN



Registrasi Kartu SIM Mengancam Pendapatan Operator Telekomunikasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaksanaan aturan mengenai registrasi pelanggan telekomunikasi menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) berpotensi membuat pertumbuhan operator telekomunikasi, salah satunya XL Axiata, pada tahun ini anjlok.
Direktur Keuangan XL Axiata (XL) Mohamed Adlan Ahmad Tajudin mengatakan, ancaman tersebut terkait dengan jumlah pelanggan yang belum melakukan daftar ulang dan terancam diputus.
"Enforcement pre-paid itu agak drastis, akan ada impact ke industri, karena handset yang belum didaftarkan akan dimatikan," ujarnya dalam paparan kinerja XL 2017 di kantornya, Jumat (2/2/2018).
"(Kalau sampai dimatikan) industri akan turun, tapi kalau tidak terjadi industri diprediksi akan tumbuh mid to high single digit," imbuhnya.
Jumlah total pelanggan XL di kuartal IV-2017 ini mencapai 53,5 juta orang. Menurut Adlan, dari total tersebut baru setengahnya yang sudah mendaftar ulang menggunakan KTP dan KK.
Karena itu, jika pemerintah bertindak keras dalam menegakkan aturan registrasi prabayar, pendapatan XL juga akan terpukul. "Bagaimana menggantinya kalau setengah itu dimatikan?" ujarnya.
Namun, di sisi lain, bila pada tanggal jatuh tempo nanti, yakni 28 Februari 2018, ternyata pemerintah memberi kelonggaran, pertumbuhan pendapatan perusahaan diperkirakan meningkat.
"Tahun 2018 prediksinya revenue inline industry, single digit mid to high. Ya, tergantung registrasi prabayar nanti," pungkasnya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika mewajibkan agar pengguna layanan telekomunikasi mendaftarkan kartu SIM menggunakan KTP dan KK. Tenggat waktu pendaftaran dipatok pada 28 Februari 2018.
Bila melebihi tanggal tersebut pengguna belum mendaftarkan dirinya, kartu SIM yang selama ini digunakan akan diblokir secara bertahap. Pemblokiran mulai dari pemutusan layanan telepon, SMS, hingga mematikan nomor.

http://ekonomi.kompas.com/read/2018/02/02/194453626/registrasi-kartu-sim-mengancam-pendapatan-operator-telekomunikasi